
HUMASWAELOLOS–Aditya H. Ludjinguru, Yosse F. Mesin dan Muhammad Nazarudin, tim survey dari Stasiun Geofisika Kupang dan Stasiun Meteorologi Komodo, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kabupaten Manggarai Barat
melakukan survey lokasi shelter seismic (tempat pencatatan seismograf) gempa bumi di desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (20/2).
Kades Gervinus menerima kunjungan tim BMKG Manggarai Barat di kantor desa Wae Lolos di Langgo. Dari kantor desa, tim BMKG didampingi Kades Wae Lolos melakukan survey di dusun Langgo.

“Tujuan tim BMKG ke desa Wae Lolos untuk survei lokasi rencana pembangunan shelter gempa bumi BMKG”, kata kepala desa Wae Lolos, Gervinus Tony kepada Komodopos.com.
Saat melakukan survey, Aditya H. Ludjinguru menyebutkan ada 4 titik/ tempat yang memenuhi syarat untuk dibangun Shelter gempa bumi di kabupaten Manggarai Barat. Keempat titik itu ada di desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, satu titik di kecamatan Mbeliling, Lembor dan kecamatan Kuwus.
“Shelter ini dibangun di 4 titik tersebut untuk singkronisai gempa yang terjadi d daerah pedalaman sehingga terkoneksi dengan kantor BMKG Pusat, Dengan Shelter itu bisa memastikan atau mencatat persis letak dan kekuatan gempa sesungguhnya”, jelas Aditya.

Kepala BKMG Kabuoaten Manggarai Barat, Sti Nenot’ek, S.Si.,M.Si membenarkan tim BMKG sedang melakukan survey di desa Wae Lolos.
“Selamat sore juga pak. Iya betul itu tim survey dari Stasiun Geofisika Kupang dan Satasiun Meteorologi Komodo Manggarai Barat untuk pemasangan shelter seismic (alat pendeteksi gempa bumi dan tsunami). Untuk tahun ini di Kabupaten Manggarai Barat direncanakan dipasang 4 shelter seismic, untuk 3 shelter yang lainnya dipasang di Kecamatan Komodo, Kecamatan Mbeliling dan Kecamatan Kuwus”, ujarnya menjawab konfirmasi Komodopos.com via messenger, Kamis (20/2).
Dari survey hari ini bersama tim BMKG, Kades Gervinus Toni menyebutkan lokasi Shelter gempa yang hendak dibangun di desa Wae Lolos terletak di dekat Masjid Langgo dengan ukuran 5×5 meter.
“Di titik tersebut akan dibangun shelter gempa di area terbuka dan hanya dipagari”, jelasnya. *(bet)






KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Swiss Contact Flores melakukan assesment terkait potensi-potensi yang ada di desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Potensi-potensi yang ada di desa Wae Lolos, antara lain air terjun Cunca Lolos, air panas di dusun Ndengo, beberapa kerajinan tangan masyarakat seperti pembuatan temulawak dan tenun serta beberapa spot wisata dan atraksi budaya lainnya.Jika potensi-potensi tersebut dikemas dengan baik, para wisatawan akan tertarik mendatangi spot-spot wisata alam tersebut.Hasil assesment tersebut akan dikirim ke kantor pusat program Sustour di Bali dan akan menunggu feedback dari kantor pusat Swis Contact di Bali.Tiga pegiat Swiss Contact, Irwanto Mahmud, Joshua Jacometti, Yulio Mario Parera menyambangi desa Wae Lolos, Selasa (15/10). Kedatangan mereka diterima oleh Kepala Desa Wae Lolos, Gervinus Toni dan seluruh aparat desa.Usai melakukan pendataan potensi yang ada di desa tersebut, mereka juga meninjau langsung beberapa spot wisata yang ada di jalur lingkar kampung Langgo.”Tujuan kedatangan kami melakukan assesment terkait potensi-potensi yang ada di desa Wae Lolos, antara lain air terjun cunca lolos, air panas di dusun Ndengo, beberapa kerajinan tangan masyarakat seperti pembuatan temulawak dan tenun serta beberapa atraksi budaya. Jika dikemas dengan baik wisatawan-wisatawan akan tertarik dengan potensi-potensi yang ada. Kami akan melaporkan hasil assesment kami ke kantor pusat program SUSTOUR di Bali dan akan menunggu feedback dari kantor pusat kami di Bali. Kami berharap pemerintah desa bersama kelompok wisata yang ada di masyarakat desa bisa terus mengembangkan potensi-potensi yang ada”, pinta Joshua.Kepala Desa Wae Lolos, Gervinus Toni menyampaikan apresiasinya atas kedatangan Swiss Contact ke desanya. Ia berharap assesment terkait potensi-potensi yang ada di desa Wae Lolos mulus hingga Swiss Contact di Bali. Dengan demikian akan membawa manfaat ekonomis bagi masyarakat Wae Lolos. Karena itu ia meminta warganya agar menjaga keaslian alam lingkar luar Langgo dan stop menjual tanah.”Pemdes Wae Lolos berharap agar tanah yang ada di area ini tidak usah dijual jual, kecuali dikontrak-pakai”, ujarnya.Berita Komodopos.com sebelumnya Geberakan jitu tahun pertama kepemimpinan Kepala Desa Wae Lolos, Gervinus Toni setelah dilantik pada 20 Desember 2018 diawali dengan membangun infrastruktur pedesaan. Dana Desa tahun 2019 sebesar Rp160.226.428 digelontorkan untuk membiayai penggusuran jalan lingkar luar kampung Langgo sepanjang 950 meter. Kini jalan baru tersebut telah rampung digusur hanya dalam waktu 14 hari kerja.Jalan lingkar luar kampung Langgo, dusun Langgo, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggong dijadikan sebagai jalur wisata alam yang efektif menuju beberapa spot destinasi wisata alam yang berada di desa Wae Lolos.Potensi wisata alam, wisata rohani dan wisata budaya lengkap dimiliki desa Wae Lolos. Di antaranya, destinasi wisata air terjun Cunca Meleng, Cunca Plias, Cunca Ri’i, Watu Bone Nggong di dusun Langgo. Destinasi wisata budaya dan rohani puncak Toto Ninu, Gua Liang Mboha di dusun Rangat. Air terjun Cunca Lolos, Cengkong, di Dusun Tembel dan bentangan persawahan sawah di dusun Ndengo sekaligus pintu masuk menuju lokasi air terjun Cunca Rami. Wisata rohani Gereja dan Gua Kristus Raja di dusun Rangat dan Masjid di dusun Langgo dan di Rangat.Semua potensi tersebut berada dalam satu bentangan alam desa Wae Lolos yang ditopang dengan kawasan hutan lindung tidak jauh dari bentangan kawasan Puarlolo, habitat burung endemik Flores.Ruas jalan lingkar luar kampung Langgo ini juga dirintis untuk membuat para wisatawan bertahan lebih lama ketika mengunjungi wilayah ini. Topografi kampung Langgo di ketinggian. Dari sini para wisatawan dapat menikmati panorama alam sejauh mata memandang. Potensi kawasan ini dapat memanjakan para wisatawan yang mengunjungi wilayah tersebut.Ke depan, kawasan ini ditata menjadi rest area, lokasi kuliner, home stay milik warga pedesaan yang tentu saja dapat mendatangkan berkah.Selama ini, tiap hari turis lalu lalang di desa Wae Lolos. Tetapi tidak mendatangkan apa-apa buat warga. Para wisatawan datang dari Labuan Bajo langsung ke Cunca Ramai atau Danau Sano Nggoang.Kepala Desa Wae Lolos, Gervinus Toni memaparkan hal itu ketika diwawancarai Komodopos.com di lokasi penggusuran jalan baru tersebut.”Jalan lingkar luar kampung Langgo ini juga merupakan akses yang sangat efektif menuju lokasi produksi pertanian, terutama tanaman holtikultura sayur-sayuran yang digalakkan oleh para petani di dusun tersebut”, terang Kades Gervinus.Ia menambahkan, desa Wae Lolos merupakan pintu gerbang menuju taman eden destinasi ekowisata primadona yang berada di kecamatan Sano Nggong. Jalan lingkar luar ini merupakan jalan alternatif menghubungkan destinasi wisata tersebut. *(Robert Perkasa, Wartawan Komodo Pos)